logo ipb

September 8th, 2011

Praktikum penkom

September 8th, 2011

Baru buat blog…

Hello world!

September 8th, 2011

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.

Tugas MPKMB

September 14th, 2010

Nama : Gemilang Tanisan
NRP : G44100102
Laskar : Laskar 21

Cerita Inspirasi 1

Namanya Elang Gumilang. Usianya 25 Tahun. Pemuda yang baru lulus IPB (Institut Pertanian Bogor) ini adalah miliarder muda. Omzet perusahaanya kini mencapai Rp 211 miliar. Elang, demikian dia disapa, adalah CEO dari Elang Grup. Sebuah induk perusahaan dari tiga anak perusahaan yakni PT Elang Semestaguna, PT Bild Consulting,dan PT Bumi Karsa Semesta.
Beberapa tahun lalu, Elang bukanlah siapa-siapa. Dia hanya seorang anak muda di SMU 1 Bogor. Dari keluarga biasa-biasa dan tidak terpandang. Namun bakat wirausahanya telah muncul. Pulang sekolah, Elang langsung mengganti pakaian sekolah untuk berkeliling berjualan donat. Tak hanya itu, Elang mencoba mencari peruntungan dengan menjadi penjual minyak goreng keliling, bahkan tukang sepatu. Semuanya dilakukan ketika masih di bangku kelas 3 SMU. Tekadnya agar kelak ketika memasuki perguruan tinggi dia bisa membiayai sendiri uang kuliahnya.
Ketika diterima menjadi mahasiswa IPB, watak wirausaha Elang kian terasah. Berbekal modal dari bantuan teman-temannya, Elang mencari lahan kosong di daerah Bogor. Membuat hunian sederhana dan dikreditkan kepada masyarakat miskin. Hasilnya terus berkembang. Hingga kemudian, Elang dikenal sebagai pelopor perkreditan rumah (sejenis kompleks perumahan) layak huni bagi warga miskin. Dengan usahanya itu, Elang mendapat banyak bantuan dana dari bank. Rumah-rumah yang dibangunnya itu diperuntukkan bagi kalangan ekonomi bawah, kebanyakan para profesi konsumennya adalah buruh pabrik, staf tata usaha
(TU) IPB, bahkan ada juga para pemulung. Watak wirausaha Elang tak sampai disitu. Untuk memutar dana investasi, Elang pun meminjami warga kurang mampu dana maksimal Rp 300 ribu yang pengembaliannya bisa dicicil (kredit).
Dua tahun berjalan bisnis Elang kian berkembang. Dia mulai dikenal dimana-mana. Hingga memutuskan untuk memasuki bisnis lain diluar properti misalnya tambang pasir dan usaha percetakan.
Kini dengan bisnisnya yang beromzet miliaran rupiah per tahun tersebut, Elang telah memiliki puluhan karyawan dengan 7 kantor cabang di beberapa wilayah. Tak ayal berbagai penghargaan telah diraihnya diantaranya Juara I Wirausaha Muda Mandiri (2007) dan dan Juara Lelaki Sejati Pengobar Inpirasi 2009 versi Bentoel.
Muda, kaya, dan tampan. Untuk menghindari godaan, Elang memutuskan mengakhiri masa lajangnya beberapa bulan lalu dengan menyunting seorang pujaan hatinya. Ada banyak impian yang ingin diraih Elang. Di antaranya membentuk organisasi Maestro Muda Indonesia dan membawahi perusahaan yang mempekerjakan karyawan 100 ribu orang. Motivasi terbesar Elang dalam meraih impian tersebut adalah ingin menjadi tauladan bagi generasi muda, membantu masyarakat sekitar, dan meraih kemuliaan dunia serta akhirat.

Cerita Inspirasi 2

Jika ditanya siapa yang paling memberikan inspirasi dalam hidup, saya pasti akan menjawab orang tua. Dari kecil sampai sekarang saya masuk IPB, orang tualah yang selalu memotivasi dan menginspirasikan saya agar saya selalu semangat dalam mengejar pendidikan yang tinggi dengan tidak melupakan masalah akhirat.
Sejak taman kanak-kanak (TK) sampai sekolah menengah pertama (SMP) saya didaftarkan oleh orang tua ke sekolah islam. Berarti orang tua saya ingin saya menjadi anak yang shaleh yang selalu taat pada agam. Pernah beberapa kali jika saya lupa atau sengaja melupakan shalat, saya langsung ingat untuk apa saya dimasukkan ke sekolah islam jika bukan supaya saya tumbuh menjadi anak yang tidak hanya memikirkan kehidupan dunia saja tetapi juga akhirat, walaupun sebenarnya kesadaran mengerjakan ibadah adalah semata-mata karena Allah SWT.
Ketika lulus SMA dan akhirnya datang waktu untuk saya melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, orang tualah yang menginspirasi, dan ayah yang paling membuat saya sangat semangat belajar untuk menghadapi tes masuk universitas saat itu.
Ayah pernah bercerita kalau pada zaman beliau sekolah, sangat mudah masuk universitas, tetapi ketika sudah diterima, sangat susah mempertahankannya. Untuk masuk kuliah, beliau tidak perlu bersaing dengan banyak orang karena pada saat itu sangat sedikit yang berminat menyambung sekolah ke universitas, karena kebanyakan orang lebih memilih mencari pekerjaan dari pada pendidikan. Dan akhirnya ayah saya diterima di jurusan sejarah Universitas Indonesia. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, beliau memang mudah masuk kuliah, tetapi susah untuk mempertahankannya. Sama halnya dengan masalah yang dihadapi beberapa anak yang ingin kuliah, biaya yang mahal selalu menjadi kendala seseorang mencapai impiannya. Karena keluarga ayah saya bukan kelauarga yang kaya, ayah saya tidak sanggup harus membayar uang kuliah setiap semesternya, sehingga beliau memutuskan untuk berhenti kuliah.
Jika dibandingkan dengan kondisi saya saat ini, sangat jauh berbeda. Saya mati-matian belajar untuk bisa masuk kuliah karena banyak oarng-orang yang sama-sama ingin kuliah seperti saya. Ketika berhasil masuk IPB, orang tua saya sudah menyiapkan dana dari jauh-jau hari untuk masuk ke IPB. Kalau saya malas belajar atau tidak belajar dengan baik, apa artinya semua usaha saya selama ini belajar, dan bagaimana dengan orang tua yang banting tulang mencarikan uang kuliah untuk saya.
Selain itu ada satu lagi hal yang ingin saya capai dan itu masih terinspirasi oleh ayah. Saya ingin bisa ke luar negeri dengan sebelumnya menguasai beberapa bahasa seperti bahasa inggris dan Prancis, karena dua bahasa tersebut adalah bahasa yang dikuasai oleh ayah saya. Setelah ayah saya berhenti kuliah, beliau mendapatkan kesempatan untuk datang ke Prancis, Eropa, untuk bekerja sebagai pegawai honorer di Kedutaan Besar Indonesia di sana. Bagaimana ayah saya bisa ditawarkan bekerja di sana, ceritanya panjang. Tapi kesempatan yang brilian itu tidak bertahan untuk selamanya bagi ayah saya. Setelah kurang lebih 12 tahun di sana, beliau kembali ke kampung dengan tidak membawa materi yang banyak. Beliau hanya membawa pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan berbahasa asing.
Saya ingin bisa seperti ayah, ke luar negeri tetapi dengan tujuan lain. Saya ingin belajar setinggi-tingginya di luar negeri, mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan dan membalas semua jasa yang telah mereka berikan. Kelak saya ingin mereka tidak perlu bekerja lagi. Mereka hanya perlu duduk santai di rumah, fokus pada masalah akhirat, dan saya yang akan menghidupi mereka.